“Perbaharuilah iman kamu, Beliau ditanya:“bagaimana kami memperbaharui iman kami,beliau menjawab: “perbanyaklah mengucapkan kalimat laa Ilaha illallah. “ [HR. Ahmad : 8944 dan Al Hakim : 7766]

Syekh Abdul Karim Tanara



SYEKH ABDUL KARIM AL-BANTANI  (L. 1840)
Oleh: KH. Imaduddin Utsman, S.Ag. MA.
(Pengasuh Ponpes Nahdlatul ulum Cempaka-Banten)
            Syekh Abdul karim Al-Bantani adalah seorang ulama asal Banten yang menjadi Khalifah tarikat Al-Qadiriyah wannaqsyabandiyyah di Asia tenggara dan Makkah al-mukarromah sepeninggal gurunya Syekh Khotib Syambas (w. 1875). Ia lahir di desa Lempuyang kecamatan Tanara kabupaten serang Banten pada tahun 1840 m. beliau adalah putra Ki Mas Tanda, turunan bangsawan Banten melalui jalur Pangeran Sunyararas putra Sulthan Maulana Hasanuddin. Silsilah lengkapnya adalah, Syekh Abdul Karim bin Mas Tanda bin Ki Mas Ruyani bin Ki Mas Ahmad Matin bin Ki Mas Ali bin  Ki Mas Bugel bin Ki Mas Jamad bin Ki Mas Janta bin ki Mas Kun bin Pangeran Sunyararas Bin Sulthan Maulana Hasanuddin.
            Sulthan maulana Hasanuddin adalah seorang sulthan yang mempunyai keturunan sampai kepada rasulullah Muhammad saw melalui Adzomat Khan.
            Sebelum Syekh Ahmad khotib Syambas wafat, Syekh Abdul karim mendapat tugas dari gurunya tersebut untuk menjadi guru tarikat di Singapura selama beberapa tahun. Kemudian beliau pulang ke negerinya di Banten pada tahun 1872. ia menetap di Lempuyang Banten selama empat tahun untuk kemudian kembali lagi ke Makkah al Mukarromah setelah gurunya wafat pada tahun 1876 untuk menjadi penghulu tarekat Al-Qadiriyah Wannaqsyabandiyyah di Jabal Qubesy makkah.
            Di hikayatkan ketika kepergian beliau ke Makkah itu penduduk Banten berduyun-duyun mengantarkan beliau. Di antara mereka ada yang berdesak-desakan menunggu di jalan yang akan di lewati Syekh Abdul Karim sampai ke pelabuhan.
            Residen Banten khawatir dengan membeludaknya masa akan terjadi hal yang merugikan pihak colonial yang pada waktu itu telah terendus akan adanya pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintah colonial. Akhirnya residen Banten mengalihkan jalur perjalanan Syekh Abdul Karim dari rute semula.
            Rencana semula dalam perjalanan itu Syekh Abdul Karim akan mampir di Karawaci di rumah almarhum Tumenggung Karawaci. Di sana akan ada pertemuan yang akan di hadiri masyarakat tarikat se Tangerang, Bogor dan sekitarnya. Yang menjadi tuan rumah adalah Raden Kencana isteri almarhum Tumenggung karawaci yang memiliki perkebunan kali pasir.
            Syekh Abdul Karim selain dikenal sebagai ulama ahli hokum Islam beliau juga diyakini sebagai waliyullah yang memiliki berbagai macam keramat. Ketika sungai cidurian banjir besar yang menenggelamkan wilayah-wilayah sepanjang jalur sungai Cidurian seperti daerah Cikande, Kresek, Gunung kaler, Lempuyang, Tanara dan Tersaba, Syekh abdul Karim selamat dari banjir tersebut padahal beliau berada di tempat yang banyak orang yang menjadi korban dalam bencana itu.
            Ketika masih mesantren di Makkah setiap santri mendapat tugas untuk bergilir mencari air. Ketika tiba giliran Syekh Abdul Karim tempat air ini sudah terisi air padahal syekh Abdul Karim belum mengisinya.
            Selain disegani dan dihormati para ulama beliau juga sangat disegani oleh para penguasa pada waktu itu. H. Raden A. Prawiranegara adalah mantan seorang patih yang sering berkunjung ke rumah beliau untuk memohon do’a.
            Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya baik yang di Makkah maupun di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Adapun murid-murid beliau dari Indonesia di antaranya Syekh Asnawi caringin-Banten, syekh Tolhah Cirebon, Syekh kholil Bangkalan-Madura, Syekh Marzuki Tanara, Syekh Sadzeli Kaloran-serang, Syekh abu Bakar pontang, syekh Tubagus ismail gulacir, Syekh Asnawi Bendung, syekh Abdullah Mubarok suryalaya, Syekh falak pegentongan Bogor, syekh Muhammad Amin Lombok, syekh Muhammad Sidik Mataram.
                       
            Perang Geger cilegon yang terjadi tahun 1888 mayoritas dimotori oleh para murid-murid beliau atas seruan jihad yang terus beliau gelorakan kepada murid-muridnya baik ketika di Makkah maupun di Banten.